Cerpen

0 komentar
BUAH DARI KESABARAN
Sukses tak akan datang bagi mereka yang hanya menunggu tak berbuat apa-apa, tapi bagi mereka yang selalu berusaha wujudkan mimpinya #BELIEVE

Rana mengambil jaket tebal yang tergantung anteng di gantungan kecil bergambar tokoh kartun global Mickey Mouse yang mengintip dari balik pintu kamarnya yang mungil berukuran 2 x 2 meter. Rasanya jaket itu masih tidak mempunyai pengaruh baginya kala dipakai untuk menerjang dinginnya dini hari. Padahal tebalnya setara dengan jaket yang dikenakan oleh TNI yang akan menjalankan misi ke benua Antartika. Setelah mengenakan jaketnya, seorang pria yang berusia lebih dari setengah abad menepuk halus pundak gadis kelas 2 SMA tersebut. Lalu kemudian mereka pergi lewat pintu kayu depan rumah. Keluar dari gubuk kecil itu rasa dingin luar biasa menerjang tubuh mereka. Sang pria tua tampak biasa saja, bahkan dapat dibilang sangat bersemangat, sedangkan Rana tampak menyembunyikan kedua telapak tangannya dibalik kedua saku jaketnya sambil menggigil. Suara kokokan ayam belum terdengar saat mereka berdua berjalan menyurusi jalanan panjang yang sangat sepi tanpa satupun kendaraan terlihat. Sesaat Rana menyembulkan tangan kirinya dari saku jaket, dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Menunjukkan sudut siku-siku 90° dengan titik koordinat x berada di angka 3 dan koordinat titik y yang berada di angka 12. Setelah mengintip sejenak, tangannya buru-buru masuk kembali ke dalam saku jaketnya dan meneruskan langkah kaki.

            16 menit 8 detik kemudian sampailah Rana di tempat yang dituju, suasananya sungguh berbeda dengan jalanan, dari pojok kanan sampai kiri semua orang tidak ada yang nganggur, semua bekerja. Mulai dari menjajakan barang jualan, menata stand tempat jualan, mengangkut barang dagangan, hingga mengusir kucing buruk rupa yang biasa mengais bangkai ikan di kolong dekat tempat sampah. Jam masih menunjukkan pukul 03.16 tapi kegiatan perekonomian tampaknya sudah berputar di pasar ini.

            “Pak, sawi hijaunya beli berapa ikat?” tanya Rana kepada pria tua yang datang bersamanya ke pasar.
            “Seperti biasanya nak” balas pria tua itu.

            Mendengar jawaban pria tua itu Rana langsung mencomot 10 ikat sawi hijau dari meja pedagang sayuran. Menyerahkan beberapa lembar uang rupiah dan bergegas pergi. Berjalan sejenak dan berhenti lagi untuk membeli tepung, ayam, rempah-rempah, dan semua bahan yang mereka butuhkan untuk membuat berpuluh porsi mangkok mie ayam. 1 jam berkutak dengan belanjaan di pasar, mereka segera pulang dengan membawa 2 kantung plastik besar belanjaan.

            Sampai di gubuk kecil berukuran 10 x 8 meter, Rana langsung menuju meja lumayan besar di pojok dapur. Ibunya tengah sibuk dengan 2 bak raksasa pakaian kotor yang menunggu untuk dibersihkan.

            “Rana bantu Buk” ucapnya kepada Ibunya.
          “Tak usah, sana bantu Bapakmu !” jawab wanita setengah baya yang sedang memasukkan air ke bak raksasa dengan ember tuanya.

            Bapaknya tengah disibukkan dengan ayam-ayam segar yang sudah tidak bernyawa dari pasar. Rana bergegas membantu pria tua itu.
            “Biar bapak saja, kau potong-potong saja sawi hijau itu !” kata pria itu.

            Setelah mencerna perintah itu, Rana langsung mengeluarkan sawi-sawi dari kantung plastik dan memotongnya menjadi ukuran yang dapat dicomot dengan sumpit. Kegiatan dini hari di dapur tidak membuat semua orang lupa untuk menjalankan rukun Islam yang kedua, Adzan di masjid dekat rumah mulai berkumandang, Rana bergegas menuju kamar mengambil mukenahnya dan membangunkan Mufa, adik laki-lakinya yang baru saja menerima buku raport kenaikan kelas 3 SD.

            “Dek, bangun. . . ayo ke masjid sama mbak” ajak Rana lembut.
            Setelah adiknya tersadar dari mimpinya, bergegaslah mereka menuju rumah Allah SWT. Adik kakak ini memang selalu ke masjid berdua karena bapak ibunya tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka. Digandengnya Mufa kecil yang usianya masih 7 tahun di bawahnya. Usai mengerjakan 2 rakaat sholat subuh, Rana kembali membantu bapaknya di dapur, menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan dan meletakkannya ke gerobak bertuliskan “Mie Ayam Ciantar”.
            “Sudah jam 5, bersiaplah kau ke sekolah nak !” perintah Bapaknya.
            “Iya pak, tinggal memasukkan bumbu ke dalam botol saja” jawab Rana

            Di dalam kamar Rana sudah mengepak buku-bukunya sesuai jadwal pelajaran hari Kamis. Sesekali dia menengok kamar Mufa dan membantu Mufa bersiap menuju sekolahnya. Setelah Mufa dan semua kebutuhannya beres, barulah Rana bersiap.

            Dengan sepeda yang terlihat telah berusia lanjut, Rana membonceng adik semata wayangnya menuju sekolah. SDN Pagelan, Ciantar tampak masih sepi jam 06.00, tapi Mufa sudah bergegas masuk ke dalam kelasnya. Sedangkan Rana kembali mengayuh pedal sepedanya menuju SMAN 1 Ciantar. Sampai di sekolahnya, sepeda kecilnya lalu diletakkan di parkiran sekolah dan bergegas masuk ke dalam kelasnya.

            Di ruang kelasnya tampak semua siswa tengah sibuk mengerjakan 10 soal pekerjaan rumah Matematika dari Bu Nuri. Rana tampak tenang melihat semua temannya sibuk. Pemandangan seperti itu sudah tidak megejutkan, Rana memang selalu mengerjakan PR nya di rumah bukan sebaliknya.

            “Rana, boleh aku pinjam PR mu?” tanya Vinny teman sebangku Rana
            Mendengar pertanyaan itu Rana meletakkan tasnya di atas meja dan mengobark-abrik isi dalam tasnya mencari buku tulis bertuliskan RANA MAULIDINA , Kelas XI-Ipa 2, buku Matematika di pojok kiri cover buku. Setelah ketemu, diserahkanlah buku itu kepada Vinny yang sedari tadi memintanya. Tanpa membuang banyak waktu, Vinny segera menyalin angka-angka yang tertulis rapi dalam buku Rana ke bukunya.

            “PR mu sudah kelar Ran?” tanya Danu yang tiba-tiba menyembul di belakang tempat duduk Rana dan Vinny.
            “Dan. . .Dan. . . kamu berapa tahun kenal Rana, pertanyaan kayak gitu nggak usah kamu tanyain.” Kata Restu yang menyembul dari belakang Danu.
            “Haha. . . biar saja, aku kan hanya ingin tau. Weekkk. . .” menjulurkan lidahnya kepada Restu.
            “PR Rana udah kelar kok, ini aku salin. Hehe. . .” suara Vinny yang tanpa diundang ikut terjun ke dalam dialog singkat Danu dan Restu.
            Jam di dinding kelas telah menunjukkan pukul 07.00 tepat. Suara sepatu Bu Nuri sudah terdengar dari pojok kelas. Semua siswa berhamburan duduk ke tempatnya masing-masing.
            “3. . . 2. . . 1. . .” Danu dan Restu kompak menghitung mundur.

            Bu Nuri menyembul dari balik pintu kelas sambil membawa 3 tumpukan buku yaitu 1 buku Matematika kelas XI dan 2 buku yang tidak diketahui apa judulnya. Beliau tampak cantik dengan baju batik coklat dengan jilbab coklat muda yang senada. Kecantikan Bu Nuri setidaknya dapat memberikan sedikit ketenangan bagi setiap siswanya agar tidak tegang dengan pelajaran yang beliau ajarkan.

            Seusai mengucapkan salam Bu Nuri langsung memeriksa pekerjaan rumah semua siswa. Seperti tradisi sejak satu setengah tahun yang lalu, Bu Nuri selalu memuji pekerjaan rumah Rana. Rana memang anak yang rajin, dan rapi. Itu semua tercermin lewat pekerjaan rumah yang dia kerjakan.

            “Ibu senang dengan pekerjaan Rana, Ibu harap. . .”
            “Kalian semua dapat mencontoh Rana !” kata Danu melanjutkan kalimat Bu Nuri.
            “Kalian semua dapat mencontoh Rana !” lanjut Bu Nuri.

            Danu tampaknya sudah sangat hapal dengan kalimat itu, semua siswa di SMAN 1 Ciantar memang menjuluki Rana sebagai Albert Einstein KW 2, seperti merk sepatu terkenal yang di copy lalu di paste sehingga mirip aslinya yang lantas dijual di pasaran. Bahkan ada juga yang menjuluki Rana sebagai master of calculation.

            “Tuh, aku sampe hapal banget sama kalimatnya Bu Nuri” lanjut Danu kepada restu yang duduk di sebelahnya.
            “Pelajaran apa sih yang Rana nggak jago coba? Matematika semua nilainya perfect dia nggak pernah dapet nilai 99. Heran aku” kata Restu yang menjawab pertanyaannya sendiri.
           “Matematik jago, fisika lewat, kimia kecil, ekonominya anak XI-Ips aja dia bisa mgerjain. Nyerah aku. . .” sahut Danu.
            “Kayaknya Cuma mapel Bahasa Prancis deh yang dia nggak bisa” guyon Restu
            “Sayangnya mapel Bahasa Prancis nggak ada di sekolah kita” sahut Danu
            “Hahaha. . .” Restu tertawa dengan muka innocent setelah membuat Danu bingung.

            Bel sekolah mengeluarkan suara datar 2x menandakan waktu istirahat. Semua siswa berhamburan menuju kantin sekolah untuk mengganjal perut mereka dengan makanan. Berbeda dengan semua temannya Rana berjalan menuju ruang TU sendirian, di sana Rana bertemu dengan Bu Indah petugas TU bagian pembayaran. Bu Indah sudah 3x menegur Rana tentang uang gedung sekolahnya yang belum dibayar sama sekali.

            “Bagaimana Rana? Apa kamu sudah dapat mencicil uang gedung sekolah?” tanya Bu Indah kepada Rana yang duduk di depannya dengan bingung.
            “Maaf Bu, saya belum bisa membayarnya. Tapi saya janji nanti pasti saya bayar” jawab Rana dengan kepala menunduk.
            “Ibu percaya Rana, tapi setidaknya kamu mencicil dulu, uang 2 juta rupiah memeng akan berat jika dibayar sekaliagus” jelas Bu Indah.
            “Maaf Bu, Bapak Ibu saya masih belum mempunyai cukup uang untuk membayarnya” tegas Rana.
            “Iya Rana, Ibu paham. Tapi kamu usahakan ya, karena sekolah telah menggratiskan uang bulanan kamu selama 3 tahun. Tapi beasiswa kamu ini tidak berlaku untuk uang gedung sekolah.” Jelas Bu Indah

            Rana meninggalkan ruang TU dan berjalan melewati kantin sekolah. Di sana semua temannya tengah duduk santai, Vinny yang asyik menikmati omelette telur nya. Danu dan Restu yang tengah melahap bakwan udang di atas meja mereka dan memesan 3 minuman bersoda. Melihat Rana yang lewat di depan mereka. Restu langsung berteriak memanggil Rana dan mengajaknya mengisi perut dengan sedikit camilan khas kantin. Rana pun duduk anteng di depan Restu dengan wajah bingung.

            “Kamu dari mana Ran? Baru bel udah ngilang” tanya Vinny
            “Dari ruang TU” jawab Rana
            “Ngapain?” seruput Danu dengan nada bicaranya yang tidak bisa serius.
            “Cerita aja sama kita Ran, nggak papa. Aku traktir kue lapis deh kalo mau cerita” bujuk Restu yang akhirnya membuat Rana mau buka mulut.
Rana pun menceritakan apa yang terjadi di ruang TU tadi kepada para sahabatnya. Rana tampak bingung harus berbuat apa.

“Aku bingung gimana harus bilang ke Bapak. Kemaren Mufa bilang ke Bapak kalau gurunya juga menegurnya.” Kata Rana bingung.
“Menegur Mufa kenapa?” tanya Vinny
“Dia sudah telat bayar uang bulanan selama 3 bulan” jawab Rana
            “Kamu yang sabar ya Ran, nanti pasti Allah ngasih jalan” kata Restu dengan mengelus lengan kiri gadis berjilbab itu.

            “Iya, makasih ya Res” senyum manis mengembang di bibirnya.
            Pulang dari sekolah Rana segera mengayuh sepedanya menuju rumah, Mufa pulang dengan teman-temannya jalan kaki. Sampai dirumah dan mengganti baju seragamnya dia belari menuju dapur, di sana tidak ditemukan sosok ibunya. Mufa sedang belajar di ruang tamu menjadi sasaran wawancara pertama Rana.

            “Dek, Ibu kemana?” tanya Rana kepada adik kecilnya
            “Ibu bantu Bapak di warung mbak” jawab Mufa

            Tanpa bertanya pertanyaan kedua Rana langsung berjalan cepat keluar dari rumahnya menuju ke sebuah warung sederhana di pojok desa. Di sana Rana melihat 2 sosok orang yang paling dicintainya tengah melayani para langganan mie ayam di warungnya. Setelah menjabat tangan kedua orang tuanya Rana langsung bergegas menumpuk mangkuk kotor di meja dan menggiringnya ke tempat cucian. Matahari sudah mulai merebahkan tubuhnya menuju barat dan akan digantikan cahaya bulan. Adzan maghrib lantang berkumandang dari masjid dekat rumah Rana. Tetapi Rana dan keluarganya khusyuk menjalankan ibadah sholat maghrib di rumahnya. Setelah berzikir bersama dan berdo’a, Rana menceritakan kejadian tadi di sekolah kepada kedua orang tuanya. Sebenarnya Rana merasa tidak tega untuk bercerita, tapi keadaanlah yang membuatnya harus bercerita kepada kedua orang tuanya itu.

            “Sabar saja, nanti Ibu dan Bapak akan mengusahakannye, kita pasti akan melunasi semua biaya kamu dan Mufa.” Kata Ibunya menenangkan Rana
            “Maafkan Rana ya Buk, Pak. . . Rana Cuma bisa ngerepotin Ibu sama Bapak. Rana tau Ibu sama Bapak juga harus bayar ini dan itu.” Ucap Rana
            “Ndak nak, Ibu dan Bapak yang minta maaf.” Lanjut Ibu
            Mufa yang masih kecil tetap anteng duduk di atas sajadahnya, walau dia bingung apa yang dibicarakan orang-orang diseitarnya.
            “Sabar saja, percayalah Allah SWT akan memberikan jalan atas setiap masalah.” Tegas Bapak Rana.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah SWT) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah SWT beserta orang-orang sabar.” (Qs. Al-Baqarah : 153)
            Bapak Rana selalu mengingatkan kedua anaknya dengan Ayat Allah itu. Setelah mendengar ucapan Ibu dan Bapaknya, Rana pun merasa tenang walau masalahnya belum selesai.
            Di ruang tengah Rana sedang belajar di temani Mufa adiknya yang mengerjakan pekerjaan rumah di sampingnya. Suara bising motor terdengar berbunyi di jalanan dan berhenti di depan rumah Rana, diintipnya dari balik jendela penasaran dengan sumber suara bising tersebut. Mengintip sejenak lalu kemudian Rana membuka pintu kecil rumahnya.
            “Restu. . .” kata Rana agak kaget
            “Aku tidak mengganggumu kan?” tanya Restu
            “Tidak, ada apa kamu malam-malam begini kemari?” Rana melempar pertanyaan kepada Restu.
            “Mau belajar Trigonometri, haha. . .” Restu tertawa kecil
            “Hah?” Rana bingung
            “Sudah. . . sudah. . . bercandanya selesai, aku mau ngasih ini ke kamu.” Restu menyodorkan selembar kertas ke arah Rana.

            Rana bingung dan penasaran dengan maksud Restu, dia pun langsung membaca tulisan warna-warni yang ada di lembar kertas itu. Belum sempat Rana bertanya Restu angkat bicara lagi.
            “Tadi siang kakakku pulang dari Jakarta, dia membawa pamflet ini, kakakku kan kuliah di UKI (Universitas Kedokteran Indonesia) di sana bakal diadain lomba Sains Nasional, kamu wajib ikut Ran, hadiahnya 5 juta rupiah, kan lumayan.” Penjelasan Restu bagaikan jawaban Allah yang langsung datang di saat hamba-Nya meminta.
            “Aku pengen banget ikut, tapi mana ada biaya aku ke Jakarta?” tanya Rana
            “Ah. . . gampang lombanya seminggu lagi, kakakku juga balik ke jakarta. Kita ke Jakarta bertiga, aku temenin kamu deh, aku yang ongkosin.” Jawab Restu.

            Hati Rana yang tadinya seperti awan kelabu alias mendung dengan hujan rintik-rintk mendadak berganti menjadi awan putih dengan matahari di atasnya. Setelah Restu pergi Rana pun menceritakannya kepada Ibu dan Bapaknya, merekapun mendukung Rana 100%. Tak ketinggalan Danu dan Vinny, semua guru dan teman Rana amat sangat mendukung keinginan gadis cantik tersebut.

            “Sekarang semua beres, kamu udah aku daftarin, tiket kereta udah aku kantongin, tinggal kamunya yang belajar dan berdo’a dan wajib menang Ran. Master of calculation kita nggak boleh kalah !” Motivasi Restu kepada Rana saat duduk di kantin sekolah jam istirahat.
            “Makasih banyak ya Res.” Senyum manis Rana kembali mengembang.

            Sepekan kemudian Rana dan Restu pun berangkat ke Jakarta bersama kakak Restu. Kak Tania memang orang yang baik, dia mengijinkan adiknya ikut bersamanya, bahkan mengijikan Rana tidur di tempat kos nya yang terletak tidak jauh dari UKI. Selama 6 hari Rana dan Restu meninggalkan pelajarannya di sekolah.

            Hari itu hari minggu, minggu yang sangat cerah dan membuat semua orang ingin berhenti sejenak dengan pekerjaannya dan bermalas-malasan di rumah. Tapi tidak demikian dengan Bapak Rana, gerobak mie ayamnya bahkan sudah siap digiring ke warung pagi-pagi sekali. Suara motor yang super bising lagi-lagi membuat gaduh di jalanan rumah penduduk, Bapak dan Ibu Rana yang tengah membersihkan gerobak melihat ke arah sang pembuat gaduh, wajah mereka seketika merekah melihat Rana dan Restu lah yang datang. Rana tak kuasa menyembunyikan rasa bahagianya, turun dari motor gaduh milik Restu, Rana langsung berlari menuju kedua orang tuanya sambil berteriak “Ibu. . . Bapak. . . Rana juaranya. . .” suasana pun berubah haru. Tangis bahagia tanpa diundang ikut hadir dalam pertemuan itu. Seperti yang dikatakan Restu sebelumnya, Rana pasti bisa. Rana lolos ke babak semi final dilanjutkan ke babak final, hingga Rana lah pemenang lomba Sains Nasional tersebut. Rana tidak menyangka buah dari kesabaran, usaha, dan do’anya berbuah manis. Akhirnya dengan uang 5 juta rupiah yang Rana dapat, dia dapat membayar uang gedung sekolahnya dan melunasi uang bulanan Mufa. Bahkan Rana mendapatkan beasiswa pendidikan di UKI selama 4 tahun. Jauh dari itu semua harapan Rana hanya satu yaitu : --walaupun Bapaknya hanya pedagang mie ayam, Ibunya hanya buruh cuci, tapi Rana berhasil menunjukkan kepada semua orang bahwa dia bisa
 

My World 2.0 Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea