BUAH DARI KESABARAN ♥
Sukses tak akan datang bagi mereka yang hanya menunggu
tak berbuat apa-apa, tapi bagi mereka yang selalu berusaha wujudkan mimpinya #BELIEVE
Rana mengambil jaket tebal yang
tergantung anteng di gantungan kecil bergambar tokoh kartun global Mickey Mouse
yang mengintip dari balik pintu kamarnya yang mungil berukuran 2 x 2 meter.
Rasanya jaket itu masih tidak mempunyai pengaruh baginya kala dipakai untuk
menerjang dinginnya dini hari. Padahal tebalnya setara dengan jaket yang
dikenakan oleh TNI yang akan menjalankan misi ke benua Antartika. Setelah
mengenakan jaketnya, seorang pria yang berusia lebih dari setengah abad menepuk
halus pundak gadis kelas 2 SMA tersebut. Lalu kemudian mereka pergi lewat pintu
kayu depan rumah. Keluar dari gubuk kecil itu rasa dingin luar biasa menerjang
tubuh mereka. Sang pria tua tampak biasa saja, bahkan dapat dibilang sangat
bersemangat, sedangkan Rana tampak menyembunyikan kedua telapak tangannya
dibalik kedua saku jaketnya sambil menggigil. Suara kokokan ayam belum
terdengar saat mereka berdua berjalan menyurusi jalanan panjang yang sangat
sepi tanpa satupun kendaraan terlihat. Sesaat Rana menyembulkan tangan kirinya
dari saku jaket, dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
Menunjukkan sudut siku-siku 90° dengan
titik koordinat x berada di angka 3
dan koordinat titik y yang berada di
angka 12. Setelah mengintip sejenak, tangannya buru-buru masuk kembali ke dalam
saku jaketnya dan meneruskan langkah kaki.
16
menit 8 detik kemudian sampailah Rana di tempat yang dituju, suasananya sungguh
berbeda dengan jalanan, dari pojok kanan sampai kiri semua orang tidak ada yang
nganggur, semua bekerja. Mulai dari menjajakan barang jualan, menata stand
tempat jualan, mengangkut barang dagangan, hingga mengusir kucing buruk rupa
yang biasa mengais bangkai ikan di kolong dekat tempat sampah. Jam masih
menunjukkan pukul 03.16 tapi kegiatan perekonomian tampaknya sudah berputar di
pasar ini.
“Pak,
sawi hijaunya beli berapa ikat?” tanya Rana kepada pria tua yang datang
bersamanya ke pasar.
“Seperti
biasanya nak” balas pria tua itu.
Mendengar
jawaban pria tua itu Rana langsung mencomot 10 ikat sawi hijau dari meja
pedagang sayuran. Menyerahkan beberapa lembar uang rupiah dan bergegas pergi.
Berjalan sejenak dan berhenti lagi untuk membeli tepung, ayam, rempah-rempah,
dan semua bahan yang mereka butuhkan untuk membuat berpuluh porsi mangkok mie
ayam. 1 jam berkutak dengan belanjaan di pasar, mereka segera pulang dengan
membawa 2 kantung plastik besar belanjaan.
Sampai
di gubuk kecil berukuran 10 x 8 meter, Rana langsung menuju meja lumayan besar
di pojok dapur. Ibunya tengah sibuk dengan 2 bak raksasa pakaian kotor yang
menunggu untuk dibersihkan.
“Rana
bantu Buk” ucapnya kepada Ibunya.
“Tak
usah, sana bantu Bapakmu !” jawab wanita setengah baya yang sedang memasukkan
air ke bak raksasa dengan ember tuanya.
Bapaknya
tengah disibukkan dengan ayam-ayam segar yang sudah tidak bernyawa dari pasar.
Rana bergegas membantu pria tua itu.
“Biar
bapak saja, kau potong-potong saja sawi hijau itu !” kata pria itu.
Setelah
mencerna perintah itu, Rana langsung mengeluarkan sawi-sawi dari kantung
plastik dan memotongnya menjadi ukuran yang dapat dicomot dengan sumpit.
Kegiatan dini hari di dapur tidak membuat semua orang lupa untuk menjalankan
rukun Islam yang kedua, Adzan di masjid dekat rumah mulai berkumandang, Rana
bergegas menuju kamar mengambil mukenahnya dan membangunkan Mufa, adik
laki-lakinya yang baru saja menerima buku raport kenaikan kelas 3 SD.
“Dek,
bangun. . . ayo ke masjid sama mbak” ajak Rana lembut.
Setelah
adiknya tersadar dari mimpinya, bergegaslah mereka menuju rumah Allah SWT. Adik
kakak ini memang selalu ke masjid berdua karena bapak ibunya tidak bisa
meninggalkan pekerjaan mereka. Digandengnya Mufa kecil yang usianya masih 7
tahun di bawahnya. Usai mengerjakan 2 rakaat sholat subuh, Rana kembali
membantu bapaknya di dapur, menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan dan
meletakkannya ke gerobak bertuliskan “Mie Ayam Ciantar”.
“Sudah
jam 5, bersiaplah kau ke sekolah nak !” perintah Bapaknya.
“Iya
pak, tinggal memasukkan bumbu ke dalam botol saja” jawab Rana
Di
dalam kamar Rana sudah mengepak buku-bukunya sesuai jadwal pelajaran hari
Kamis. Sesekali dia menengok kamar Mufa dan membantu Mufa bersiap menuju
sekolahnya. Setelah Mufa dan semua kebutuhannya beres, barulah Rana bersiap.
Dengan
sepeda yang terlihat telah berusia lanjut, Rana membonceng adik semata
wayangnya menuju sekolah. SDN Pagelan, Ciantar tampak masih sepi jam 06.00,
tapi Mufa sudah bergegas masuk ke dalam kelasnya. Sedangkan Rana kembali
mengayuh pedal sepedanya menuju SMAN 1 Ciantar. Sampai di sekolahnya, sepeda
kecilnya lalu diletakkan di parkiran sekolah dan bergegas masuk ke dalam
kelasnya.
Di
ruang kelasnya tampak semua siswa tengah sibuk mengerjakan 10 soal pekerjaan
rumah Matematika dari Bu Nuri. Rana tampak tenang melihat semua temannya sibuk.
Pemandangan seperti itu sudah tidak megejutkan, Rana memang selalu mengerjakan
PR nya di rumah bukan sebaliknya.
“Rana,
boleh aku pinjam PR mu?” tanya Vinny teman sebangku Rana
Mendengar
pertanyaan itu Rana meletakkan tasnya di atas meja dan mengobark-abrik isi
dalam tasnya mencari buku tulis bertuliskan RANA MAULIDINA , Kelas XI-Ipa 2,
buku Matematika di pojok kiri cover buku. Setelah ketemu, diserahkanlah buku
itu kepada Vinny yang sedari tadi memintanya. Tanpa membuang banyak waktu,
Vinny segera menyalin angka-angka yang tertulis rapi dalam buku Rana ke
bukunya.
“PR
mu sudah kelar Ran?” tanya Danu yang tiba-tiba menyembul di belakang tempat
duduk Rana dan Vinny.
“Dan.
. .Dan. . . kamu berapa tahun kenal Rana, pertanyaan kayak gitu nggak usah kamu
tanyain.” Kata Restu yang menyembul dari belakang Danu.
“Haha.
. . biar saja, aku kan hanya ingin tau. Weekkk. . .” menjulurkan lidahnya
kepada Restu.
“PR
Rana udah kelar kok, ini aku salin. Hehe. . .” suara Vinny yang tanpa diundang
ikut terjun ke dalam dialog singkat Danu dan Restu.
Jam
di dinding kelas telah menunjukkan pukul 07.00 tepat. Suara sepatu Bu Nuri
sudah terdengar dari pojok kelas. Semua siswa berhamburan duduk ke tempatnya
masing-masing.
“3.
. . 2. . . 1. . .” Danu dan Restu kompak menghitung mundur.
Bu
Nuri menyembul dari balik pintu kelas sambil membawa 3 tumpukan buku yaitu 1
buku Matematika kelas XI dan 2 buku yang tidak diketahui apa judulnya. Beliau
tampak cantik dengan baju batik coklat dengan jilbab coklat muda yang senada.
Kecantikan Bu Nuri setidaknya dapat memberikan sedikit ketenangan bagi setiap
siswanya agar tidak tegang dengan pelajaran yang beliau ajarkan.
Seusai
mengucapkan salam Bu Nuri langsung memeriksa pekerjaan rumah semua siswa.
Seperti tradisi sejak satu setengah tahun yang lalu, Bu Nuri selalu memuji
pekerjaan rumah Rana. Rana memang anak yang rajin, dan rapi. Itu semua
tercermin lewat pekerjaan rumah yang dia kerjakan.
“Ibu
senang dengan pekerjaan Rana, Ibu harap. . .”
“Kalian
semua dapat mencontoh Rana !” kata Danu melanjutkan kalimat Bu Nuri.
“Kalian
semua dapat mencontoh Rana !” lanjut Bu Nuri.
Danu
tampaknya sudah sangat hapal dengan kalimat itu, semua siswa di SMAN 1 Ciantar
memang menjuluki Rana sebagai Albert Einstein KW 2, seperti merk sepatu
terkenal yang di copy lalu di paste sehingga mirip aslinya yang lantas dijual di
pasaran. Bahkan ada juga yang menjuluki Rana sebagai master of calculation.
“Tuh,
aku sampe hapal banget sama kalimatnya Bu Nuri” lanjut Danu kepada restu yang
duduk di sebelahnya.
“Pelajaran
apa sih yang Rana nggak jago coba? Matematika semua nilainya perfect dia nggak
pernah dapet nilai 99. Heran aku” kata Restu yang menjawab pertanyaannya
sendiri.
“Matematik
jago, fisika lewat, kimia kecil, ekonominya anak XI-Ips aja dia bisa mgerjain.
Nyerah aku. . .” sahut Danu.
“Kayaknya
Cuma mapel Bahasa Prancis deh yang dia nggak bisa” guyon Restu
“Sayangnya
mapel Bahasa Prancis nggak ada di sekolah kita” sahut Danu
“Hahaha.
. .” Restu tertawa dengan muka innocent setelah
membuat Danu bingung.
Bel
sekolah mengeluarkan suara datar 2x menandakan waktu istirahat. Semua siswa
berhamburan menuju kantin sekolah untuk mengganjal perut mereka dengan makanan.
Berbeda dengan semua temannya Rana berjalan menuju ruang TU sendirian, di sana
Rana bertemu dengan Bu Indah petugas TU bagian pembayaran. Bu Indah sudah 3x menegur
Rana tentang uang gedung sekolahnya yang belum dibayar sama sekali.
“Bagaimana
Rana? Apa kamu sudah dapat mencicil uang gedung sekolah?” tanya Bu Indah kepada
Rana yang duduk di depannya dengan bingung.
“Maaf
Bu, saya belum bisa membayarnya. Tapi saya janji nanti pasti saya bayar” jawab
Rana dengan kepala menunduk.
“Ibu
percaya Rana, tapi setidaknya kamu mencicil dulu, uang 2 juta rupiah memeng
akan berat jika dibayar sekaliagus” jelas Bu Indah.
“Maaf
Bu, Bapak Ibu saya masih belum mempunyai cukup uang untuk membayarnya” tegas
Rana.
“Iya
Rana, Ibu paham. Tapi kamu usahakan ya, karena sekolah telah menggratiskan uang
bulanan kamu selama 3 tahun. Tapi beasiswa kamu ini tidak berlaku untuk uang
gedung sekolah.” Jelas Bu Indah
Rana
meninggalkan ruang TU dan berjalan melewati kantin sekolah. Di sana semua
temannya tengah duduk santai, Vinny yang asyik menikmati omelette telur nya. Danu dan Restu yang tengah melahap bakwan udang
di atas meja mereka dan memesan 3 minuman bersoda. Melihat Rana yang lewat di
depan mereka. Restu langsung berteriak memanggil Rana dan mengajaknya mengisi
perut dengan sedikit camilan khas kantin. Rana pun duduk anteng di depan Restu
dengan wajah bingung.
“Kamu
dari mana Ran? Baru bel udah ngilang” tanya Vinny
“Dari
ruang TU” jawab Rana
“Ngapain?”
seruput Danu dengan nada bicaranya yang tidak bisa serius.
“Cerita
aja sama kita Ran, nggak papa. Aku traktir kue lapis deh kalo mau cerita” bujuk
Restu yang akhirnya membuat Rana mau buka mulut.
Rana pun menceritakan
apa yang terjadi di ruang TU tadi kepada para sahabatnya. Rana tampak bingung
harus berbuat apa.
“Aku bingung gimana
harus bilang ke Bapak. Kemaren Mufa bilang ke Bapak kalau gurunya juga
menegurnya.” Kata Rana bingung.
“Menegur Mufa kenapa?”
tanya Vinny
“Dia sudah telat bayar
uang bulanan selama 3 bulan” jawab Rana
“Kamu
yang sabar ya Ran, nanti pasti Allah ngasih jalan” kata Restu dengan mengelus
lengan kiri gadis berjilbab itu.
“Iya,
makasih ya Res” senyum manis mengembang di bibirnya.
Pulang
dari sekolah Rana segera mengayuh sepedanya menuju rumah, Mufa pulang dengan
teman-temannya jalan kaki. Sampai dirumah dan mengganti baju seragamnya dia
belari menuju dapur, di sana tidak ditemukan sosok ibunya. Mufa sedang belajar
di ruang tamu menjadi sasaran wawancara pertama Rana.
“Dek,
Ibu kemana?” tanya Rana kepada adik kecilnya
“Ibu
bantu Bapak di warung mbak” jawab Mufa
Tanpa
bertanya pertanyaan kedua Rana langsung berjalan cepat keluar dari rumahnya
menuju ke sebuah warung sederhana di pojok desa. Di sana Rana melihat 2 sosok
orang yang paling dicintainya tengah melayani para langganan mie ayam di
warungnya. Setelah menjabat tangan kedua orang tuanya Rana langsung bergegas
menumpuk mangkuk kotor di meja dan menggiringnya ke tempat cucian. Matahari
sudah mulai merebahkan tubuhnya menuju barat dan akan digantikan cahaya bulan.
Adzan maghrib lantang berkumandang dari masjid dekat rumah Rana. Tetapi Rana
dan keluarganya khusyuk menjalankan ibadah sholat maghrib di rumahnya. Setelah
berzikir bersama dan berdo’a, Rana menceritakan kejadian tadi di sekolah kepada
kedua orang tuanya. Sebenarnya Rana merasa tidak tega untuk bercerita, tapi
keadaanlah yang membuatnya harus bercerita kepada kedua orang tuanya itu.
“Sabar
saja, nanti Ibu dan Bapak akan mengusahakannye, kita pasti akan melunasi semua
biaya kamu dan Mufa.” Kata Ibunya menenangkan Rana
“Maafkan
Rana ya Buk, Pak. . . Rana Cuma bisa ngerepotin Ibu sama Bapak. Rana tau Ibu
sama Bapak juga harus bayar ini dan itu.” Ucap Rana
“Ndak
nak, Ibu dan Bapak yang minta maaf.” Lanjut Ibu
Mufa
yang masih kecil tetap anteng duduk di atas sajadahnya, walau dia bingung apa
yang dibicarakan orang-orang diseitarnya.
“Sabar
saja, percayalah Allah SWT akan memberikan jalan atas setiap masalah.” Tegas
Bapak Rana.
“Hai
orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah SWT) dengan sabar
dan sholat, sesungguhnya Allah SWT beserta orang-orang sabar.” (Qs. Al-Baqarah : 153)
Bapak
Rana selalu mengingatkan kedua anaknya dengan Ayat Allah itu. Setelah mendengar
ucapan Ibu dan Bapaknya, Rana pun merasa tenang walau masalahnya belum selesai.
Di
ruang tengah Rana sedang belajar di temani Mufa adiknya yang mengerjakan
pekerjaan rumah di sampingnya. Suara bising motor terdengar berbunyi di jalanan
dan berhenti di depan rumah Rana, diintipnya dari balik jendela penasaran
dengan sumber suara bising tersebut. Mengintip sejenak lalu kemudian Rana
membuka pintu kecil rumahnya.
“Restu.
. .” kata Rana agak kaget
“Aku
tidak mengganggumu kan?” tanya Restu
“Tidak,
ada apa kamu malam-malam begini kemari?” Rana melempar pertanyaan kepada Restu.
“Mau
belajar Trigonometri, haha. . .”
Restu tertawa kecil
“Hah?”
Rana bingung
“Sudah.
. . sudah. . . bercandanya selesai, aku mau ngasih ini ke kamu.” Restu
menyodorkan selembar kertas ke arah Rana.
Rana
bingung dan penasaran dengan maksud Restu, dia pun langsung membaca tulisan
warna-warni yang ada di lembar kertas itu. Belum sempat Rana bertanya Restu
angkat bicara lagi.
“Tadi
siang kakakku pulang dari Jakarta, dia membawa pamflet ini, kakakku kan kuliah di UKI (Universitas Kedokteran
Indonesia) di sana bakal diadain lomba Sains
Nasional, kamu wajib ikut Ran, hadiahnya 5 juta rupiah, kan lumayan.”
Penjelasan Restu bagaikan jawaban Allah yang langsung datang di saat hamba-Nya
meminta.
“Aku
pengen banget ikut, tapi mana ada biaya aku ke Jakarta?” tanya Rana
“Ah.
. . gampang lombanya seminggu lagi, kakakku juga balik ke jakarta. Kita ke
Jakarta bertiga, aku temenin kamu deh, aku yang ongkosin.” Jawab Restu.
Hati
Rana yang tadinya seperti awan kelabu alias mendung dengan hujan rintik-rintk
mendadak berganti menjadi awan putih dengan matahari di atasnya. Setelah Restu
pergi Rana pun menceritakannya kepada Ibu dan Bapaknya, merekapun mendukung
Rana 100%. Tak ketinggalan Danu dan Vinny,
semua guru dan teman Rana amat sangat mendukung keinginan gadis cantik
tersebut.
“Sekarang
semua beres, kamu udah aku daftarin, tiket kereta udah aku kantongin, tinggal
kamunya yang belajar dan berdo’a dan wajib menang Ran. Master of calculation kita nggak boleh kalah !” Motivasi Restu
kepada Rana saat duduk di kantin sekolah jam istirahat.
“Makasih
banyak ya Res.” Senyum manis Rana kembali mengembang.
Sepekan
kemudian Rana dan Restu pun berangkat ke Jakarta bersama kakak Restu. Kak Tania
memang orang yang baik, dia mengijinkan adiknya ikut bersamanya, bahkan
mengijikan Rana tidur di tempat kos nya yang terletak tidak jauh dari UKI.
Selama 6 hari Rana dan Restu meninggalkan pelajarannya di sekolah.
Hari
itu hari minggu, minggu yang sangat cerah dan membuat semua orang ingin
berhenti sejenak dengan pekerjaannya dan bermalas-malasan di rumah. Tapi tidak
demikian dengan Bapak Rana, gerobak mie ayamnya bahkan sudah siap digiring ke
warung pagi-pagi sekali. Suara motor yang super bising lagi-lagi membuat gaduh
di jalanan rumah penduduk, Bapak dan Ibu Rana yang tengah membersihkan gerobak
melihat ke arah sang pembuat gaduh, wajah mereka seketika merekah melihat Rana
dan Restu lah yang datang. Rana tak kuasa menyembunyikan rasa bahagianya, turun
dari motor gaduh milik Restu, Rana langsung berlari menuju kedua orang tuanya
sambil berteriak “Ibu. . . Bapak. . . Rana juaranya. . .” suasana pun berubah
haru. Tangis bahagia tanpa diundang ikut hadir dalam pertemuan itu. Seperti
yang dikatakan Restu sebelumnya, Rana pasti bisa. Rana lolos ke babak semi
final dilanjutkan ke babak final, hingga Rana lah pemenang lomba Sains Nasional tersebut. Rana tidak
menyangka buah dari kesabaran, usaha, dan do’anya berbuah manis. Akhirnya
dengan uang 5 juta rupiah yang Rana dapat, dia dapat membayar uang gedung
sekolahnya dan melunasi uang bulanan Mufa. Bahkan Rana mendapatkan beasiswa
pendidikan di UKI selama 4 tahun. Jauh dari itu semua harapan Rana hanya satu
yaitu : --walaupun
Bapaknya hanya pedagang mie ayam, Ibunya hanya buruh cuci, tapi Rana berhasil
menunjukkan kepada semua orang bahwa dia bisa—


